Peneliti Rutgers dan IBM Kembangkan Metode untuk Menstabilkan Komputer Kuantum Saat Beroperasi

Peneliti Rutgers University dan IBM berhasil menunjukkan metode baru untuk mengendalikan perilaku komputer kuantum ketika proses komputasi masih berlangsung. Penelitian yang diumumkan pada 9 Oktober 2026 ini memanfaatkan teknologi pengukuran dan pengaturan ulang qubit secara berulang untuk mengurangi perilaku kuantum yang tidak terkendali. Eksperimen tersebut dilakukan menggunakan prosesor IBM Quantum Heron dengan melibatkan hingga 100 qubit dalam rangkaian pengujian. Hasilnya menunjukkan bahwa sistem kuantum dapat diarahkan menuju kondisi yang lebih teratur melalui mekanisme umpan balik secara langsung. Temuan ini menjadi langkah penting menuju pengembangan komputer kuantum yang lebih stabil, andal, dan mampu menangani kesalahan selama beroperasi.
Kolaborasi Rutgers University dan IBM dalam Menstabilkan Sistem Kuantum
Kolaborasi ilmuwan Rutgers bersama IBM menghadirkan pencapaian menarik dalam upaya meningkatkan keandalan komputer kuantum. Kelompok penelitian tersebut berhasil mendemonstrasikan pengendalian umpan balik secara langsung. Berkat sistem pengendalian ini, komponen informasi kuantum dapat dipantau serta direset ketika proses kuantum lainnya terus bekerja. Hasil demonstrasi ini menunjukkan bahwa pengendalian tidak harus menunggu seluruh proses selesai. Bagi perkembangan teknologi, kemampuan tersebut menjadi fondasi menarik karena informasi kuantum sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan.
Hasil penelitian tersebut diterbitkan melalui jurnal ilmiah Nature Physics dengan fokus pada perubahan perilaku sistem kuantum. Kajian yang dilakukan dilaksanakan melalui kolaborasi beberapa lembaga penelitian. Peneliti yang terlibat dalam pengembangan tersebut adalah Jedediah Pixley dari Rutgers University dan Maika Takita dari IBM. Para ilmuwan tersebut beserta kolaboratornya mempelajari mekanisme pengaturan kondisi qubit. Melalui rangkaian eksperimen tersebut, sistem memperlihatkan transisi menuju keadaan yang lebih teratur. Walaupun hasilnya menjanjikan, demonstrasi tersebut belum membuktikan koreksi kesalahan kuantum secara lengkap.
Penyebab Sistem Komputer Kuantum Rentan Mengalami Kesalahan
Komputer kuantum bekerja menggunakan prinsip fisika yang berbeda dari komputer biasa. Jika komputer tradisional menyimpan informasi dalam bentuk bit bernilai nol atau satu, komputer kuantum menggunakan quantum bit atau qubit. Unit informasi tersebut mempunyai karakteristik memiliki kombinasi amplitudo dari keadaan dasar. Karakteristik kuantum ini mendukung cara pemrosesan informasi yang berbeda. Meskipun demikian, informasi pada qubit mudah dipengaruhi lingkungan. Karena karakteristik tersebut, komputer kuantum memerlukan pengaturan lingkungan yang ketat.
Gangguan terhadap qubit dapat berasal dari berbagai kondisi. Fluktuasi temperatur, pengaruh medan elektromagnetik eksternal, serta ketidakakuratan operasi gerbang kuantum berpotensi mengganggu operasi qubit. Selain itu, ketidaksempurnaan material juga dapat memberikan pengaruh. Ketika proses komputasi semakin panjang, gangguan yang muncul bisa bertambah. Kondisi tersebut membuat ketepatan keluaran komputasi semakin menantang. Karena alasan inilah, teknologi pengendalian dan koreksi kesalahan menjadi kebutuhan utama dalam meningkatkan kualitas komputasi kuantum.
Mekanisme Real-Time Quantum Feedback Control pada Prosesor IBM
Sistem pengendalian dalam penelitian ini menggabungkan pengukuran qubit dengan operasi reset. Melalui eksperimen tersebut, prosesor menjalankan operasi kuantum sambil melakukan pemeriksaan tertentu. Apabila sistem menjalankan operasi pengaturan ulang, keadaannya diarahkan kembali ke kondisi yang telah ditetapkan. Proses ini membantu menekan penyebaran perilaku kuantum yang kacau. Perlu dipahami bahwa, pengaturan ulang qubit tidak sama dengan koreksi kesalahan kuantum lengkap. Batasan kemampuan ini membantu menempatkan penelitian sesuai pencapaiannya.
Masalah utama dalam eksperimen tersebut adalah melakukan pengukuran berulang tanpa menghentikan seluruh prosesor. Keadaan yang tersimpan pada qubit tidak dapat disalin sembarangan seperti data klasik. Selain itu, pemeriksaan langsung berpotensi memengaruhi informasi. Karena itu, pengendalian membutuhkan koordinasi yang tepat. Pada eksperimen yang dilaksanakan, perangkat berhasil melakukan rangkaian pemeriksaan secara berulang. Pencapaian ini menjadi bukti kemajuan sistem kontrol kuantum untuk menangani kebutuhan pemantauan selama operasi.
Eksperimen IBM Quantum Heron Melibatkan Hingga 100 Qubit
Sebagai bagian dari demonstrasi penelitian, tim menggunakan prosesor IBM Quantum Heron yang memiliki 156 qubit. Pada konfigurasi pengujian, tim menggunakan rantai berisi maksimal 100 qubit. Setelah konfigurasi ditentukan, komputer menjalankan dua jenis operasi dengan pengaruh berbeda. Mekanisme awal menghasilkan dinamika yang meningkatkan pencampuran informasi. Sebaliknya, sistem memeriksa qubit lalu mengatur ulang kondisinya. Dua mekanisme yang diuji memungkinkan peneliti mempelajari cara pengendalian kuantum berlangsung.
Dalam demonstrasi yang dilakukan, para peneliti melaksanakan sekitar 5.000 operasi yang menghubungkan pasangan qubit. Selain itu, hampir 5.000 pengukuran dan reset juga dilakukan. Jumlah operasi yang dilakukan menjadi salah satu demonstrasi terbesar untuk pendekatan ini. Setelah menjalankan rangkaian awal, tim mengubah perbandingan antara operasi pencampuran dan reset. Melalui variasi pengaturan ini, tim mampu menemukan kondisi ketika reset lebih berpengaruh. Hasilnya, sistem menunjukkan peralihan dari kekacauan menuju keteraturan.
Transisi Fase Menunjukkan Perubahan dari Kekacauan Menuju Keteraturan
Pencapaian ilmiah penting dalam penelitian adalah ditemukannya peralihan tajam antara dua kondisi. Saat proses yang menyebarkan kekacauan mendominasi, sistem cenderung mempertahankan perilaku kacau. Ketika keseimbangan operasi berubah, operasi pengaturan ulang yang dominan membantu membentuk keadaan lebih teratur. Ketika kedua jenis operasi memiliki frekuensi hampir seimbang, perubahan kecil dapat memicu peralihan besar. Fenomena tersebut dikenal sebagai transisi fase. Keberhasilan menemukan transisi tersebut memperkuat penelitian mengenai kontrol perilaku kuantum.
Fenomena peralihan fase mempunyai analogi sederhana berupa perubahan cairan menjadi padatan. Apabila lingkungan mengalami perubahan yang cukup, karakteristik material berganti secara nyata. Dalam eksperimen kuantum ini, parameter yang diubah adalah frekuensi operasi. Hasil pengujian memperlihatkan hubungan erat antara eksperimen dan perhitungan ilmiah. Menurut penelitian tersebut, perubahan fase terlihat semakin jelas ketika sistem diperbesar. Hasil tersebut memberikan bukti perilaku kolektif yang melibatkan banyak qubit. Berkat hasil tersebut, kajian stabilitas komputer kuantum memiliki landasan fisika yang lebih kuat.
Kesimpulan: Penelitian Rutgers dan IBM Membuka Jalan bagi Komputer Kuantum Andal
Penelitian Rutgers University dan IBM menghadirkan hasil yang menjanjikan dalam pengembangan teknologi komputer kuantum. Melalui penggunaan mekanisme pemeriksaan serta pengaturan ulang keadaan kuantum, para peneliti mampu mengendalikan perilaku sistem. Pengujian dengan hingga 100 qubit menjadi dasar pengembangan teknik pemantauan yang lebih kompleks. Walaupun hasil penelitian sangat menarik, teknologi ini masih memerlukan pengembangan menuju koreksi kesalahan lengkap. Di masa depan, kemampuan kontrol seperti ini berpotensi mendukung komputer kuantum yang lebih andal. Bagaimana pandangan Anda, apakah komputer kuantum akan menjadi teknologi penting dalam penelitian masa depan? Sampaikan pandangan melalui kolom komentar agar diskusi mengenai inovasi komputasi semakin menarik.








