Cara Menghindari Deepfake Scam saat Video Call dan Telepon AI Terlihat Semakin Meyakinkan

Kemampuan kecerdasan buatan dalam meniru wajah dan suara manusia membuat modus deepfake scam semakin penting untuk dikenali. Video call atau panggilan telepon yang terlihat berasal dari keluarga, rekan kerja, maupun orang yang dipercaya belum tentu membuktikan identitas penelepon secara mutlak. Teknologi generatif dapat digunakan untuk membuat manipulasi visual dan suara yang semakin meyakinkan, sehingga kebiasaan melakukan verifikasi menjadi sangat penting sebelum mengikuti permintaan transfer uang, memberikan kode keamanan, atau membagikan informasi pribadi.
Mengenal Modus Deepfake dalam Panggilan Digital
Deepfake scam merupakan modus manipulasi yang menggunakan kecerdasan buatan untuk meniru identitas seseorang. Dalam panggilan video maupun komunikasi suara, pelaku dapat mencoba meniru wajah, suara, intonasi, atau gaya komunikasi target. Tujuannya biasanya adalah membangun kepercayaan dengan cepat sebelum target diarahkan untuk melakukan tindakan yang menguntungkan penipu.
Risiko deepfake scam semakin besar ketika manipulasi AI dipadukan dengan tekanan psikologis. Nama keluarga, pekerjaan, hubungan sosial, foto, rekaman video, serta informasi publik dapat membantu pelaku membangun cerita yang sesuai dengan kondisi target. Karena itu, wajah dan suara yang terlihat familiar tidak lagi cukup sebagai bukti identitas.
Ciri Visual yang Dapat Menjadi Petunjuk Deepfake
Ketika sebuah panggilan video terasa mencurigakan, amati detail wajah dan gerakan dengan teliti. Ketidaksesuaian antara ucapan dan gerakan bibir, perubahan pada wajah, atau ekspresi yang tampak aneh dapat mendorong pengguna melakukan verifikasi melalui cara lain. Detail rambut, kacamata, telinga, bayangan, serta kontur wajah yang terlihat berubah juga dapat menjadi indikator manipulasi.
Pengamatan terhadap wajah tetap perlu dikombinasikan dengan metode verifikasi lainnya. Kompresi video, kualitas kamera, koneksi buruk, dan pencahayaan rendah juga dapat membuat video asli terlihat kurang natural. Selain itu, kemampuan Teknologi deepfake semakin maju, sehingga deepfake yang semakin baik dapat menjadi sulit dibedakan hanya melalui pengamatan mata.
Kenali Telepon dengan Suara Palsu Buatan AI
Voice cloning memungkinkan AI menghasilkan suara yang menyerupai individu tertentu. Dalam modus deepfake melalui telepon, audio sintetis dapat memberikan kesan bahwa penelepon adalah seseorang yang dikenal. Kemiripan tersebut dapat membuat seseorang menurunkan kewaspadaan, terutama ketika situasi dibuat mendesak.
Cara terbaik menilai panggilan mencurigakan adalah memperhatikan keseluruhan situasi. Tempo yang janggal, emosi yang kurang sesuai, jawaban yang tidak natural, maupun pola bicara berbeda dapat memberikan alasan untuk mengakhiri panggilan dan melakukan verifikasi. Akan tetapi, kemiripan suara tidak sebaiknya menjadi satu satunya mekanisme autentikasi karena kualitas sistem generatif terus meningkat.
Gunakan Saluran Kedua untuk Memastikan Identitas
Jika seseorang melalui video call atau telepon meminta uang secara mendadak, jangan langsung mengikuti instruksinya. Akhiri panggilan dan hubungi orang tersebut melalui nomor yang sebelumnya sudah Anda simpan. Jangan hanya menggunakan nomor, tautan, atau akun baru yang diberikan selama percakapan mencurigakan.
Keluarga maupun organisasi dapat menambahkan metode konfirmasi sederhana. Frasa rahasia, prosedur panggilan ulang, serta pemeriksaan melalui kontak kedua dapat memberikan lapisan perlindungan ketika identitas diragukan. Pastikan informasi verifikasi tidak berasal dari detail yang tersedia secara terbuka, karena data publik dapat dimanfaatkan untuk membuat rekayasa sosial semakin meyakinkan.
Waspadai Manipulasi Emosi dalam Deepfake Scam
Pelaku deepfake scam dapat menggunakan tekanan emosional supaya target segera mengambil keputusan. Alasan tentang keadaan darurat, transaksi penting, masalah keluarga, maupun pembayaran segera dapat dimanfaatkan agar korban merasa harus segera membantu. Jika penelepon meminta agar transaksi dirahasiakan, anggap situasi tersebut sebagai alasan untuk melakukan pemeriksaan tambahan.
Pengguna harus berhati hati ketika video call atau telepon meminta kredensial pribadi. OTP, PIN, password, kode autentikasi, detail kartu, dan informasi rekening perlu tetap dilindungi meskipun penelepon tampak seperti orang yang dikenal. Memberikan waktu untuk memeriksa permintaan sebelum bertindak dapat membantu mengurangi peluang keberhasilan rekayasa sosial.
Lindungi Data Pribadi agar Tidak Mudah Dimanfaatkan
Perlindungan terhadap penipuan AI sebaiknya juga mencakup keamanan akun dan data pribadi. Aktifkan autentikasi multifaktor pada layanan penting serta kelola kredensial agar satu kebocoran tidak memengaruhi banyak layanan. Jika akun menyediakan opsi login menggunakan passkey, fitur tersebut dapat digunakan untuk mengurangi ketergantungan terhadap password tradisional.
Pengguna dapat mengurangi data pribadi yang tidak perlu dibagikan secara terbuka. Unggahan audio, video, daftar kerabat, jabatan, serta rutinitas tertentu dapat digunakan untuk membuat skenario penipuan terasa semakin personal. Mengatur audiens unggahan, membatasi detail sensitif, dan meninjau pengaturan privasi dapat menjadi bagian dari kebiasaan menggunakan Teknologi secara aman.
Rangkuman Cara Menghindari Deepfake Scam
Kemajuan Teknologi AI membuat pengguna perlu lebih berhati hati dalam mempercayai identitas melalui komunikasi digital. Langkah perlindungan yang paling penting adalah membangun kebiasaan verifikasi sebelum melakukan tindakan sensitif. Perhatikan konteks komunikasi, jangan mudah terpengaruh tekanan, hubungi kembali melalui nomor terpercaya, dan lindungi kode keamanan. Dengan kombinasi pengetahuan Teknologi AI dengan praktik keamanan digital, risiko menjadi korban penipuan dapat dikurangi. Pembaca dapat menerapkan langkah tersebut sekaligus mengajak orang terdekat meningkatkan kewaspadaan.








